Jumat, 09 Juli 2010

Memilih, mengecat elemen kayu bangunan, perabot & merawatnya

Kayu masih menjadi primadona. Material ini begitu akrab dengan budaya membangun rumah di Indonesia. Banyak orang terpikat keindahannya. Kuda2, atap, kusen, pintu, jendela, furniture, lantai, dinding dan plafon bisa menggunakan bahan kayu. Bahkan pada jaman Belanda dulu, beberapa bangunan besar di Indonesia, ada yang menggunakan kayu sebagai pondasi, kata Endy Subijono, arsitek juga peneliti kayu. Tentu, tak semua jenis kayu sesuai digunakan sebagai elemen bangunan. Arsitek Aaron Purbo menuturkan, kayu wajib ditempatkan sesuai karakter bahan. Jangan asal menempatkan kayu kalau bukan peruntukannya. Kayu tepat, bangunan menjadi kuat.

Kayu untuk konstruksi harus memenuhi syarat teknis ; kuat, keras, berukuran besar, dan mempunyai keawetan alam yang tinggi. Jenis kayu yang tepat untuk ini, antara lain ; kayu jati, bangkirai, kapur, rasamala, balau, belangeran dan giam. Kayu langsung terkena air, misalnya lantai teras luar, rangka atap untuk genteng sirap, sebaiknya menggunakan jenis kayu tahan air seperti ; kayu ulin, bangkirai dan damar laut. Untuk yang mengedepankan keindahan, gunakan kayu berserat cantik seperti ; kayu jati, kelapa, nyatoh, ebony, sungkai dan sonokeling. Kayu untuk furnitur, sebaiknya dipilih yang sedang beratnya, berdimensi stabil, punya unsur dekoratif dan mudah dikerjakan ( dipaku, dibubut, disekrup, dilem dsb ), seperti ; kayu jati, mahoni, meranti, sonokeling dan ramin. Pada lantai ( misalnya, parket ) gunakan kayu yang keras, berdaya abrasi tinggi, tahan asam, mudah dipaku dan cukup kuat, seperti kayu ; balau, bangkirai, bungur dan jati.

Sebagian jenis kayu sangat rapuh dan mudah dimakan rayap. Sebagian lagi cukup keras dan dihindari rayap. Jenis kayu yang cukup tahan rayap, salah satunya jati yang memiliki zat ekstraktif bersifat racun sehingga rayap enggan mampir. Kelebihan lain dari jati adalah kuat, mudah diaplikasikan dan memiliki serat yang menawan. Sayang, ketersediaannya kini semakin menipis dan langka. Walhasil, harga jati melangit. Permeter kubiknya sekarang sekitar Rp15 – 20 juta. Dengan harga setinggi itu, anda harus mempertimbangkan masak2 pemakaian kayu jati sebagai konstruksi rumah, misalnya pada elemen kusen, pintu, jendela atau furnitur. Sayang ( jangan ) kalau cuma dipakai untuk kuda2 atau rangka atap.

Untuk konstruksi atap yang kuat dan tahan rayap serta harga terjangkau, gunakan kayu bangkirai. Kekuatannya boleh diadu dengan jati. Harganya sekitar Rp.3 – 4 juta permeter kubik. Persoalannya, jika menggunakan kayu ini, anda harus memperkerjakan tukang yang berpengalaman menangani kayu keras yang menuntut perlakuan lebih. Untuk bangkirai, agar mudah dipaku harus dibor dulu.

Makin langkanya kayu berkualitas, membuat orang melirik material alternatif. Sebut saja kusen aluminium, daun pintu dari PVC atau rangka atap dari baja ringan. Harga material pengganti ini cenderung lebih tinggi dari kayu ( kecuali jati dan ulin yang masih lebih mahal ). Maka, mau tak mau, kayu masih menjadi pilihan. Memang, tak semua kayu seberuntung jati atau bangkirai yang memiliki zat penangkal rayap secara alami. Kayu yang rentan rayap tetap bisa diaplikasikan, dengan perlakuan khusus terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai elemen bangunan. Rayap juga tak selalu ada di mana-mana.

Kayu punya banyak keunggulan, mudah dibentuk, teknologi aplikasi sederhana, memiliki banyak jenis dan ragam serat, serta banyak pilihan finishing/ coating ( cat, pernis, pelitur, melamik, duco ). Kita dapat membangun rumah dengan kreativitas yang lebih bebas. Anda pun akan memperoleh rumah yang kuat dan memikat ( Idea )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar